Showing posts with label Laut. Show all posts
Showing posts with label Laut. Show all posts

Laut Sebagai Integritas Nasional

laut
Sepeti diketahui Indonesia merupakan kepulauan atau archipelago state. Kata archipelago sering diterjemahkan sabagai “kepulauan” yaitu berupa kumpulan pulau yang dipisahkan oleh permukaan air laut. Sesungguhnya ada perbedaan pengertian yang fundamental antara kepulauan dan archipelago. Kepulauan diartikan sebagai kumpulan pulau, sedangkan istilah archipelago berasal dari bahasa Latin “archipelagos” yang berasal dari kata archi yang berarti utama dan pelages yang berarti laut, sehingga memiliki arti “laut utama”. Konsep archipelago state yang dikembangkan Indonesia yang mengacu kepada makna kepulauan “harus diganti dengan konsep negara bahari”, yaitu negara laut yang memiliki banyak pulau.
Sebagai Negara bahari, Indonesia tidak hanya memiliki satu “laut utama” atau heartsea setidaknya ada tiga laut utama yang membentuk Indonesia sebagai sea system yaitu Laut Jawa, Laut Flores dan Laut Banda.
Dalam peta terlihat bahwa wilayah Indonesia terdiri dari kepulauan besar dan kecil yang jumlahnya belasan ribu. Banyak di antara pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh selat dan laut yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer. Misalnya, jarak antara Pulau Sumatra dan Sulawesi, Maluku dan Papua, lebih dari 2000 km. Begitu juga jarak antara Kepulauan Nusa Tenggara di selatan dan Kepulauan Sangir Talaud di ujung paling utara lebih dari 2000 km. Pulau-pulau besar dan kecil tersebut dihuni oleh berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki keragaman etnis dan budaya.
Mengapa Islam yang berkembang di Indonesia menjadi faktor yang mempercepat proses integrasi bangsa Indonesia? Jawaban terhadap pertanyaan ter sebut dapat dilihat secara etis, kultural, historis, dan ideologis. Secara etis, ajaran Islam tidak mengakui adanya perbedaan golongan dalam masyarakat. Dapat dikatakan bahwa etika Islam bersifat demokratis karena agama Islam tidak mengenal strata sosial. Bagi penganut Islam, semua orang yang menganut Islam dianggap sebagai saudara dan memiliki kedudukan yang sama. Cara pandang seperti ini dipraktekkan oleh para pedagang Islam di seluruh Nusantara, dalam pergaulan di kota-kota pelabuhan Nusantara. Di kota-kota dagang pe nting Nusantara, seperti Malaka, Pasai, Banten, Cirebon, Tuban, Demak, Makassar, Ambon, dan lain-lain terjadi hubungan yang egaliter (berada dalam posisi yang sama). Misalnya, para pedagang yang berada di Malaka, Banten, dan lain-lain menganggap para pedagang Islam yang berasal dari berbagai daerah dan suku bangsa Indonesia sebagai saudara. Terjadilah keterikatan di
antara mereka dan perasaan sebagai saudara. Perbedaan-perbedaan latar belakang suku, adat-istiadat, bahasa, tradisi, dan lain-lain menjadi tidak begitu penting karena semuanya merasa berada dalam satu pandangan dan kedudukan yang sama. Mereka
merasa bersatu karena pandangan mereka yang sama tersebut.   
   
Kondisi geografis kepulauan Indonesia merupakan salah satu faktor yang paling sulit dalam membentuk kesatuan Nusantara. Kesulitan itu akan bertambah besar dengan keanekaragaman suku bangsa yang memiliki adat istiadat dan bahasa berbeda yang tinggal di pulau-pulau yang terpisah itu. Oleh karena itu, makna integrasi bagi bangsa Indonesia merupakan hal yang paling penting.
Istilah integrasi nasional berasal dari dua kata yaitu integrasi dan nasional. Istilah integrasi mempunyai arti pembauran/penyatuan sehingga menjadi kesatuan yang utuh / bulat. Istilah nasional mempunyai pengertian kebangsaan, bersifat bangsa sendiri,meliputi suatu bangsa seperti cita-cita nasional, tarian nasional,perusahaan nasional. Hal-hal yang menyangkut bangsa dapat berupa adat istiadat, suku, warna kulit, keturunan, agama, budaya,wilayah/daerah dan sebagainya. Sehubungan dengan penjelasan kedua istilah di atas maka integritas nasional identik dengan integritas bangsa yang mempunyai pengertian suatu proses penyatuan atau pembauran berbagai aspek  egara budaya ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan identitas nasional atau bangsa  yang harus dapat menjamin terwujudnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam mencapai tujuan bersama sebagai suatu bangsa.Integritas nasional sebagai suatu konsep dalam kaitan dengan wawasan kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan pada aliran pemikiran/paham integralistik.
Pengertian integrasi secara sederhana dapat diartikan sebagai pembawaan hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat antara komponen-komponen dan lingkungan. Dalam suatu proses interaksi ketiga komponen saling berhubungan melalui proses asosiatif dan disosiatif. Proses asosiatif terjadi melalui akomodasi – kerjasama – koordinasi – asimilasi. Sedangkan proses disosiatif terjadi apabila di dalamnya terdapat persaingan dan pertentangan.

Setiap negara akan selalu menghadapi permasalahan integrasi nasional. Kondisi masyarakat, geografi dan bentuk negara merupakan negara-faktor yang membedakan setiap masalah integrasi nasional suatu negara. 
  1. Masalah-masalah yang dihadapi suatu negara dalam mewujudkan integrasi nasional diantaranya adalah: cara pandang yang berbeda tentang pola laku duniawi dan cara untuk mencapai tujuan.
  2. kondisi masyarakat majemuk, yang terdiri atas berbagai kelompok etnis baik di antara penduduk pribumi maupun keturunan asing.
  3. jarak antara wilayah cukup jauh.
    Menurut Kluckhohn dan Kelly, budaya merupakan semangat hidup. Budaya merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar untuk kemudian menjadi pedoman dalam berperilaku.
Perwujudan budaya nasional dapat kita lihat dalam cara berpakaian, berbahasa, perilaku, dan peralatan.
Ada 4 (empat) dimensi yang bisa memperkuat integritas nasional, yaitu sebagai berikut:
  1. Pengalaman sejarah yang sama dan dapat bertindak sebagai kekuatan yang kohesif.
  2. Pemilikan simbul-simbul social budaya yang dirasakan sebagai milik bersama yang dapat memberikan identitas bagi negara-bangsa yang juga membedakannya dengan negara-bangsa yang  lain.
  3. Bahwa interaksi diantara kelompok social yang berbeda  di dalam negara-bangsa jugan akan mendorong tercapainya integritas nasional, khususnya diantara kelompok social yang memiliki berbagai perbedaan sosio-kultural. Dalam hal ini segala jenis mobilitas dan komunikasi antar daerah, termasuk di dalamnya komunikasi lewat kemaritiman, menjadi sangat penting.
  4. Ketergantungan antar daerah dan keseimbangan regional di dalam kemajuan ekonomi juga merupakan fondasi integritas nasional. Dalam hubungan ini pertumbuhan perkembangan ekonomi yang secara geografis tidak seimbang akan mendorong ke  arah proses disintegritas.
Dalam konsep integrasi, laut-laut dan selat yang berada di wilayah Indonesia merupakan penyatu. Demikian pula keragaman suku-suku bangsa, budaya, dan bahasa yang secara alami telah mengalami proses evolusi sejak migrasi bangsa Austronesia ribuan tahun yang lalu. Terintegrasinya kepulauan yang tersebar di garis khatulistiwa dan memiliki keragaman budaya daerah, bahasa, dan bentuk fisik tersebut menuju kesatuan politis merupakan proses yang sulit dan panjang. Untuk itu diperlukan keinginan, tekad, dan upaya suku-suku bangsa yang tinggal di kepulauan tersebut.
Lautan bukan sebagai pemisah, justru mempersatukan pulau-pulau. Suatu kenyataan,  Indonesia merupakan satu kesatuan politik yang mengikat beribu pulau dan berates suku bangsa menunjukkan adanyan perkembangan sejarah dinamika factor hubungan antar pulau, antar suku bangsa dan antar bangsa. Iklim juga demikian, memainkan peran yang sangat pentingdalam proses integrasi nasional. Pada tatanan laut dengan segala bentuk transportasinya, mampu menjadi sarana hubungan utama. Melalui hubungan laut para penguasa pribumi dari berbagai daerah di Indonesia dapat melakukan hubungan baik dengan pihak luar.
Pelayaran dan perdagangan antar pulau di kawasan Nusantara memiliki peran penting dalam proses integrasi bangsa Indonesia. Peranan tersebut dapat dilihat pada tiga hal penting. Pertama, pelayaran dan perdagangan antarpulau telah menghubungkan penduduk satu pulau dengan lainnya. Kedua, melalui pelayaran dan perdagangan antar pulau terjadi proses percampuran dan penyebaran budaya satu daerah terhadap daerah lainnya. Ketiga, dengan pelayaran dan perdagangan antarpulau proses integrasi bangsa mengalami percepatan.
Dengan adanya pelayaran dan perdagangan antar pulau terjadilah hubungan antar penduduk satu pulau dan pulau lainnya. Penduduk di ujung Nusantara bagian timur bisa berhubungan dengan penduduk yang tinggal di ujung Nusantara bagian Barat. Penduduk yang tinggal di kota-kota pelabuhan pulau-pulau Nusantara sebelah selatan, seperti Jawa dan Nusa Tenggara bisa berhubungan dengan penduduk yang berada di kota-kota pelabuhan Nusantara bagian utara, seperti Aceh, Malaka, Makassar, dan lain-lain.
Dalam pelayaran dan perdagangan tersebut laut memegang peranan yang sangat penting. Laut digunakan sebagai jalan bebas hambatan yang bisa digunakan oleh penduduk setiap pulau. Dengan demikian, laut Nusantara dan selat-selat yang memisahkan pulau-pulau tersebut bukan merupakan pemisah atau pembatas penduduk yang tinggal di satu pulau dengan penduduk yang tingggal di pulau lainnya. Laut merupakan jalan penghubung sekaligus sebagai pemersatu penduduk yang tinggal di kepulauan Nusantara. Hubungan pelayaran dan perdagangan antarpulau yang sangat ramai pada abad ke15-16 sebenarnya telah dirintis sejak zaman prasejarah dan diteruskan oleh zaman kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Buddha.

 Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Pengertian integrasi secara sederhana dapat diartikan sebagai pembawaan hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat antara komponen-komponen dan lingkungan
  2. Perwujudan budaya nasional dapat kita lihat dalam cara berpakaian, berbahasa, perilaku, dan peralatan.
  3. Budaya merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar untuk kemudian menjadi pedoman dalam berperilaku.
  4. Terintegrasinya kepulauan yang tersebar di garis khatulistiwa dan memiliki keragaman budaya daerah, bahasa, dan bentuk fisik tersebut menuju kesatuan politis merupakan proses yang sulit dan panjang
  5. Laut merupakan jalan penghubung sekaligus sebagai pemersatu penduduk yang tinggal di kepulauan Nusantara

Kenaikan Harga Ikan dan Kesejahteraan Nelayan

nelayan
Publikasi Badan Pu­sat Sta­tistik awal Februari ini menunjukkan bahwa sumbangan inflasi ikan segar pada bulan Desember 2009 dan Januari 2010 menga­lami peningkatan, yaitu dari 0,03 persen menjadi 0,07 per­sen.

Inflasi tersebut terjadi akibat meningkatnya har­ga ikan segar di pasar nasional.
Kalau dilihat dari kondisi perikanan saat ini, kenaikan harga ikan segar tersebut sa­ngat wajar terjadi, karena sampai akhir Januari lalu para nelayan masih banyak yang memilih untuk menyandarkan perahunya di pantai ketimbang melaut karena cuaca yang belum bersahabat. Selain itu, produksi ikan budi daya sampai saat ini belum dapat diandalkan sebagai pengganti ke­butuhan ikan segar di ma­syarakat, karena tingkat produksinya masih rendah.
Perkiraan penulis, kenaikan inflasi ikan segar ini masih terjadi sampai akhir Februari 2010 nanti, karena menurut perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca buruk di per­airan Indonesia diperkirakan ma­sih akan terjadi sampai akhir Februari. Selain itu, juga ber­dasarkan kasus-kasus da­lam lima tahun terakhir, bia­sanya pada pertengahan Fe­bruari, pada saat puncaknya mu­sim hujan, para pembudi daya ikan nasional mengalami kegagalan panen akibat kematian massal. Sentra-sentra perikanan budi daya seperti di Waduk Jatiluhur dan Cirata, Jawa Barat, hampir setiap tahun pada saat rendahnya tingkat penyerapan sinar matahari di perairan tersebut, terdapat ribuan ton ikan mati karena kekurangan oksigen dan per­gerakan massa air dari da­sar perairan yang membawa racun.
Pertanyaannya sekarang: apakah ada dampak kenaikan harga ikan segar tersebut terhadap kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan nasio­nal? Secara logis pasti akan berdampak positif, karena secara otomatis dengan adanya kenaikan harga ikan segar pendapatan nelayan dan pembudi daya ikan akan mengalami peningkatan. Dengan demi­kian, kesejahteraan pun akan meningkat. Akan tetapi, kenya­taannya di lapangan, kenaikan harga ikan segar tersebut ternyata berdampak negatif ter­hadap kesejahteraan nela­yan dan pembudi daya ikan. Hal ini ditunjukkan dengan terus menurunnya nilai tukar nelayan dan pembudi daya ikan sampai akhir Desember 2009.
Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2010 menunjukkan bahwa nilai tu­kar nelayan pada bulan De­sember 2009 terjadi penurunan sebesar 0,29 persen. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh terus meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi perikanan yang semakin tinggi, baik di nelayan maupun para pembudi daya ikan. Biaya produksi nelayan pada saat cuaca buruk seperti saat ini jauh lebih besar dibandingkan biaya produksi pada saat cuaca yang tenang.
Sementara itu, biaya produksi para pembudi daya saat ini sangat tinggi karena harga pakan yang terus meningkat. Harga pakan di tingkat pembudi daya ikan saat ini sudah berada di atas Rp 260.000 per zak. Hal ini juga terus diperparah dengan minimnya permodalan yang dimiliki oleh nelayan dan pembudi daya ikan tersebut.
Kondisi ini memang sangat ironis. Kenaikan harga ikan yang seharusnya dapat me­ningkatkan kesejahteraan ne­layan dan pembudi daya ikan, kenyataannya tidak terjadi. Hal ini pun diperparah lagi dengan belum adanya kebijakan yang komprehensif dalam mena­ngani kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan. Ke­bijakan dan program pemerintah saat ini lebih banyak di­arahkan untuk meningkat­kan harga jual ikan, tetapi tanpa diikuti dengan kebijakan dan program untuk menurunkan biaya produksi nelayan dan pembudi daya ikan.
Misalnya, kebijakan-kebijakan pemerintah lebih banyak untuk membangun coldstorage dibandingkan dengan memperbaiki dan memperbanyak stasiun pengisian bahan bakar khusus bagi nelayan dan pembudi daya ikan. Selain itu, sampai saat ini juga belum terlihat adanya upaya serius guna menekan harga pakan ikan dan mencari alternatif lain untuk menggantikan tepung ikan sebagai bahan baku pakan ikan.
Bahkan, kalau kita melihat program Kementerian Ke­lautan dan Perikanan saat ini, ter­lihat pemerintah kurang tanggap terhadap kondisi ter­sebut dan terkesan tidak me­miliki arah pembangunan yang jelas. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kesinambungan antara kebijakan menteri-men­teri sebelumnya dengan men­teri saat ini.

Kebijakan Komprehensif
Berdasarkan hal tersebut di atas, sudah saatnya pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan untuk me­nyusun kebijakan yang lebih komprehensif dan berke­si­nambu­ngan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk me­ningkatkan kesejahteraan ne­layan dan pembudi daya ikan, adalah pertama, terus me­ningkatkan mutu ikan segar yang dihasilkan oleh nelayan dan pembudi daya ikan, se­hingga harganya jauh lebih tinggi dari sekarang.
Kedua, memperkuat industri pengolahan ikan nasional, hal ini dimaksudkan agar ikan hasil produksi nelayan dan pembudi daya ikan dapat ter­serap industri nasional. Ketiga, penurunan biaya rumah tangga nelayan dan pembudi daya ikan, misalnya, dengan mene­ruskan dan meningkatkan program biaya kesehatan dan pendidikan gratis untuk keluarga nelayan dan pembudi daya ikan.
Hal ini sangat diperlukan karena dengan adanya program kesehatan dan pendi­dikan gratis, para nelayan dan pembudi daya ikan dapat menginvestasikan biaya yang seharusnya untuk menjamin kesehatan dan pendidikan ke­luarganya untuk mening­kat­kan permodalan.
Keempat, penurunan biaya produksi perikanan. Misalnya, dengan terus meningkatkan jumlah dan kualitas pelayanan stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan dan pembudi daya ikan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar para nelayan dan pembudi daya ikan dapat membeli bahan bakar solar sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, pemerintah perlu perlu mendorong terwujudnya rumah-rumah pakan ikan yang dikelola oleh setiap kelompok pembudi daya ikan dengan bahan baku lokal. Dengan begitu, me­reka tidak tergantung lagi pada pakan pabrik yang harganya jauh dari jangkauan mereka.
Kelima, dalam upaya menjaga kelestarian sumber daya ikan laut, khususnya ikan pelagis kecil (small pelagic) dan nilai ekonomis—karena harga pakan tinggi, pemerintah perlu mengembangkan perikanan budi daya untuk ikan-ikan jenis herbivora seperti ikan nila (tilapia), ikan detrivora seperti ikan bandeng dan gurami, serta rumput laut. Sementara untuk ikan-ikan jenis karnivora seperti kerapu lebih baik dikurangi. Hal ini disebabkan ikan-ikan jenis herbivora dan de­trivora tidak tergantung pada pakan pabrik.
Sementara itu, menurut Daniel Pauly, peneliti per­ikanan University of British Columbia (UBC), untuk menghasilkan 1 kilogram daging ikan kerapu (atau ikan karni­vora lainnya), bisa butuh 5-10 kilogram ikan rucah/small pelagic. Artinya, pemerintah lebih banyak mengembangkan budi daya ikan jenis karnivora seperti kerapu sama saja de­ngan menguras sumber daya ikan pelagis kecil yang ada di perairan laut Indonesia.
Alhasil, kelima hal tersebut di atas hendaknya menjadi perhatian serius pemerintah da­lam arah pembangunan kelautan dan perikanan ke depan, khususnya dalam jangka pendek ini. Dengan adanya kebijakan yang komprehensif dan berkesinambungan, dengan adanya kenaikan harga ikan, diharapkan ini berdampak positif terhadap kesejahteraan nelayan dan pembudi daya ikan nasional.

Penulis adalah Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim.

Potensi Selat Malaka


Pihak PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo)I segera memanfaatkan potensi ekonomi di ketiga selat itu dengan usaha jasa pemandu kapal-kapal asing. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan potensi ekonomi di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Hal itu dikemukakan Direktur Utama PT Pelindo I Harry Sutanto di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (10/10). ”Ada sekitar 200 kapal per hari yang lalu- lalang di Selat Malaka, termasuk Selat Singapura. Namun, jasa pemandu kapal selama ini lebih banyak dilakukan oleh perusahaan asing,” kata Harry.

Dari 200 kapal itu, lanjut Harry, sekitar 10 persen merupakan kapal tanker minyak berukuran besar. Kapal-kapal tanker yang melewati Selat Malaka dan Singapura membutuhkan jasa pemandu untuk keselamatan pelayaran dan perlindungan aspek lingkungan.

Pelindo I, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang usaha jasa kepelabuhanan, menurut Harry, siap memberikan pelayanan jasa pemandu kapal-kapal di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Pelindo telah melakukan uji coba pemanduan kapal di perairan Pulau Iyu Kecil, Kabupaten Karimun. Pihak Pelindo I juga terus mengikuti pertemuan kelompok ahli teknis mengenai keselamatan navigasi di Selat Malaka dan Singapura.

Manajer Pelayanan Kapal Pelindo Cabang Tanjung Pinang Jauhari mengatakan, nilai ekonomis dari kegiatan kapal-kapal jalur pelayaran Selat Malaka dan Singapura sangat besar. Sebagai gambaran, biaya jasa pemandu sekitar 0,026 dollar AS per kapasitas ruang muatan (gross register tonnage/GRT).

Menurut Jauhari, pihak PT Pelindo I menargetkan dapat melayani 10 kapal tanker berukuran besar per hari. Dengan asumsi, biaya jasa pemandu sebesar Rp 100 juta per kapal, berarti pendapatan dari jasa pemandu kapal mencapai Rp 1 miliar per hari.

Jauhari menyatakan, jasa pemandu kapal asing bersifat sukarela. Artinya, pihak kapal asing dapat menggunakan jasa pemandu dari perusahaan yang diakui oleh suatu negara, seperti PT Pelindo.

Pulau Nipah

Harry menambahkan, potensi Pulau Nipah, Provinsi Kepulauan Riau, sangat strategis untuk usaha jasa pelayaran kapal-kapal asing yang melintas di Selat Malaka dan Selat Singapura, seperti kapal-kapal minyak dari Timur Tengah ke negara-negara di Asia Pasifik.

Menurut Harry, ada banyak jasa pelayaran dan kepelabuhanan yang dapat ditawarkan kepada kapal-kapal asing, seperti lego jangkar, pengadaan logistik, dan jasa pemandu. (FER)

Sejarah Pembuatan Perahu Kayu Di Aceh

Perahu bagi nelayan Aceh adalah jiwa mereka. Dan, para tukang adalah “pencipta” yang menitipkan ruhnya pada perahu-perahu itu. Selama berabat-abat tradisi ini tetap terjaga. Namun, orientasi ekonomi mulai mengubahnya. Kebanyakan daari tukang perahu, kini sekadar perajin/kerajinan yang mengejar target produksi atau order dari kontraktor.
Menurut Denys Lombard, dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), seorang tukang pembuat perahu termasuk golongan utama dalam masyarakat Aceh pada zaman dulu. Para tukang ini bertugas untuk membuat sebuah kapal nelayan, yg merupakan profesi utama masyarakat Aceh pesisir. Para tukang ini juga  bertugas membuat kapal- kapal perang, yang menjadikan suatu Kesultanan Aceh disegani sebagai penguasa Selat Malaka dan pantai barat Sumatera.
Seorang tukang harus memilih sendiri kayu terbaik dari hutan yang akan digunakan untuk bahan-bahan  perahu. Sesudah dipilih hari terbaik, pohon itu baru bisa ditebang. Disaat jatuhnya batang kayu akan menentukan kayu itu layak dipakai atau tidak. Ada perhitungan rasionalnya, sekaligus ritual, yang harus dilakukan sejak proses memilih kayu di hutan untuk lunas hingga saat perahu untuk pertama kali menyentuh air laut.
Saat ini, ritual itu sudah banyak ditinggalkan. Namun, didaerah kawasan pesisir barat Aceh jejaknya masih dapat ditemukan. Para tukang perahu yang kami temui di daerah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, misalnya, masih menerapkan aturan tersebut. Salah satunya adalah Tukang Atim (67) dari Ds Pante Raja, Kec Mangging, Kab Aceh Barat Daya. Berkat kegiatan membuat perahu, istilah ‘tukang’ pun akhirnya melekat menjadi pada
bagian dari nama sang empu.
Lelaki ini sudah membuat perahu sejak 1965, dan dimulai dengan magang pada Tukang Kamar, pemilik galangan kapal terbesar di daerah Meulaboh pada era itu. Galangan kapal ini membuat berbagai  boat pesanan dari berbagai daerah di Aceh, seperti Banda Aceh,Pulau Sinabang , Aceh Selatan, dan Singkil. Perahu terbesar yang pernah dibuatnya adalah kapal penyeberangan Labuhan Haji-Simeulue berbobot 260 ton.
Pada tahun 1980, dia pulang kembali ke desa dan membuat sebuah perahu sendiri. Pada saat itu pula Tukang Atim telah mendidik puluhan tukang perahu di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.
Menurut Atim, seorang pembuat perahu harus memiliki tiga hal yaitu mengerti tentang kayu,panggilan , dan memiliki keahlian tukang itu sendiri. Yang paling penting ialah panggilan. “Tanpa adanya sebuah panggilan, orang mungkin bisa membuat sebuah perahu, mungkin akan banyak salah. Perahu yang dibuat tidak membawa berkah dan bisa mengancam nasib nelayan ,” kata dia.
Tukang Atim yakin, saat membuat perahu seorang tukang harus benar-benar menjiwainya. Dan dia harus tahu betul kayu yg dipakai, diambil dari daerah mana, dan diliatbagaimana jatuhnya saat pohon ditebang. “Nasib seorang nelayan di laut sangatlah bergantung pada perahu yang kita buat,” ujar dia.
Ilmu atau pengetahuan tentang kayu dibutuhkan untuk menghasilkan perahu yang kuat menahan ombak selama bertahun-tahun. Setiiap jenis kayu mempunyai kemampuan masing-masing. Misalnya, untuk lunas biasa dipakai kayu seumantok/damar laut, untuk dinding dari meranti, dan gading-gading atau rusuk kapal dari bak mane.
“Dulu, tukang harus memilih sendiri kayu di hutan untuk bahan perahunya, terutama kayu untuk lunas. Setelah memilih kayu untuk lunas, dia harus mengayunkan kampak untuk pertama kali ke kayu itu. Pecahan pertama kayu yang lepas akibat kapak ini harus disimpan dulu,” tutur Tukang Atim.
Kemudian, seorang tukang akan menunggu “tanda” apakah pohon itu boleh ditebang atau tidak. Jika ada tanda baik—bisa dengan mimpi—berarti pohon siap ditebang.
Di sekitar pohon yang akan ditebang ini harus dibersihkan dulu, sebab kayu yang ditumbangkan harus langsung mengenai tanah. Sisi kayu yang jatuh mengenai tanah ini nantinya saat dijadikan lunas, yang juga harus berada di sisi bawah. Tidak boleh terbalik. Jatuhnya kayu saat ditebang juga harus jauh dari pangkal, tak boleh menempel. Kayu seperti ini bisa membahayakan kalau dipakai untuk membuat perahu, bisa menimbulkan korban atau mahantam banie.
“Kalau terbalik, perahu juga rawan terbalik saat di laut. Tukang harus bisa membaca tanda-tanda alam,” ungkap dia.

Interaksi dengan pemilik

Selain mengetahui betul kondisi kayu yang dipakai untuk bahan perahu, seorang tukang juga harus membangun komunikasi terus-menerus dengan calon pemilik perahu. “Kita harus mengetahui kemauan calon pemilik perahu, sehingga perahu yang dibuat betul-betul cocok dengan mereka,” kata Tukang Atim.
Untuk menentukan ukuran perahu, menurut Tukang Atim, dia memiliki rumus yang dipegang, dan diwariskan secara turun-temurun. Misalnya, jika pemesan meminta panjang lunas perahu 20 meter, berarti lebar perahu 4,5 meter dengan kedalaman 1,7 meter. Jika panjang lunas 25 meter, berarti lebar perahu 6 meter, dan kedalaman 2 meter.
Para tukang perahu sepertinya juga memiliki angka-angka emas, seperti golden section, temuan Leonardo Da Vinci dalam menentukan proporsi rumah terbaik. Proporsi terbaik untuk membuat perahu ini pun biasa diwariskan secara turun- temurun kepada calon tukang yang magang.
Tukang Atim menambahkan, setelah perahu selesai, ada upacara peusijuk atau tepung tawar. Dimulai dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama, dan syukuran dengan mengundang anak yatim atau fakir miskin di kampung, baru kemudian perahu ditolak ramai-ramai ke laut oleh perwakilan warga.
Tukang Mukhtar (62) dari Desa Samadua, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, juga mengaku masih menerapkan tradisi untuk membuat perahu. Mukhtar membuat boat sejak usia 15 tahun.
Salah satu kelebihan Mukhtar adalah mampu melengkungkan papan untuk perahu tanpa dipanaskan atau diklem. Dia cukup menggunakan tali yang dikencangkan, dan mengurut papan itu ditambah sedikit “ilmu” tentang kayu. Mukhtar tak pernah memakai skala atau gambar saat membuat perahu, sejak dari memotong lunas hingga selesai. Semua ia lakukan dengan intuisi, yang telah bertahun-tahun terasah.
Kemampuan Mukhtar melengkungkan perahu tanpa dipanaskan dan tanpa diklem ini diakui oleh tukang-tukang lain di galangan kapal di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan, beberapa di antara teman- temannya menyatakan bahwa Mukhtar bisa memanjangkan kayu tanpa disambung dan dipendekkan tanpa dipotong.
Seperti Tukang Atim, bagi Mukhtar yang terpenting dalam proses pembuatan boat adalah proses pemilihan kayu. “Tak boleh menebang perahu, memotong atau melintang arah aliran air atau istilahnya kalang batang. Kayu yang membendung arah aliran air ini adalah kayu yang buruk,” kata dia.
Namun, aturan-aturan tersebut tak bisa dilakukan oleh Mukhtar saat menerima order membuat perahu bantuan untuk nelayan di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan, di bawah koordinasi sebuah kontraktor. “Semua kayu sudah disediakan oleh perusahaan. Saya tinggal membuatnya, padahal tak semua kayu ini sebenarnya boleh dipakai,” papar dia.
Mukhtar juga mengaku tak tahu untuk siapa perahu-perahu yang dibuatnya ini, sehingga prinsip komunikasi dengan calon pemilik diabaikan. Ia mengaku dihadapkan pada dilema, antara prinsip pertukangan yang diyakininya dan tuntutan untuk membuat perahu sesuai permintaan dan aturan kontraktor.
Tsunami sebenarnya menjadi berkah tersendiri bagi para tukang perahu di Aceh. Kebutuhan perahu yang sangat tinggi untuk menggantikan sekitar 9.000 perahu nelayan yang hancur akibat tsunami, membuat para tukang perahu di Aceh kebanjiran pesanan. Namun, di sisi lain hal ini juga mempercepat lunturnya budaya ritual adat saat membuat perahu. Kebutuhan menghasilkan perahu dengan jumlah banyak dalam tempo yang singkat, membuat sebagian tukang memangkas ritual-ritual itu.

Zaman yang berubah

Sebelum tsunami, lunturnya tradisi ini sebenarnya sudah mulai terasa. Terutama dialami para tukang muda. Abdul Jamal (40), salah seorang pembuat perahu dari Susoh, mengatakan, perahu yang dibuatnya semata berdasarkan perhitungan logis yang cermat.
“Saya tak lagi memakai aturan-aturan adat itu. Tapi saya tetap memakai perhitungan-perhitungan yang cermat. Kuncinya, keseimbangan antara panjang, lebar, dan tinggi perahu. Kayu yang kami gunakan juga yang terbaik, yaitu yang tua dan tak ada cacat,” ujar Jamal.
Jamal mengaku pernah membuat perahu dengan kayu (bak) mane yang diambil dari kuburan yang dikeramatkan warga. “Sampai sekarang perahu itu masih bagus. Tapi pemilik perahu tak pernah tahu bahwa kayu itu dari kuburan. Kalau tahu mungkin dia juga tak mau,” kata dia.
Abdul Jamal mewakili generasi tukang perahu muda dari Aceh yang mencoba menjawab tuntutan zaman yang serba cepat. Namun, seiring dengan itu, sebuah tradisi yang sekian abad dipegang mulai pupus, salah satunya adalah hilangnya jalinan kepercayaan antara tukang dan pemilik perahu.


Gelombang Laut

Gelombang Laut merupakan pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang membentuk lembah dan bukit kurva/grafik sinusoidal.

Bagian-bagian gelombang laut
Crest : merupakan titik tertinggi/puncak sebuah gelombang.
Trough : merupakan titik terendah atau lembah sebuah gelombag.
Wave height : merupakan jarak vertikal antara crest dan trough atau disebut juga tinggi gelombang.
Wave lenght : merupakan jarak berturut-turut antara dua buah crest atau dua buah trough, disebut juga satu panjang gelombang.
Wave period : waktu yg dibutuhkan crest untuk kembali pada titik semula secara berturut-turut, disebut juga periode gelombang.
Wave steepnees : perbandingan dimana panjang gelombang dengan tinggi gelombang, disebut juga kemiringan gelombang.

Tipe Gelombang
Gelombang pembangun pembentuk atau pembangun pantai (Constructive wave).
gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambatnya sangat rendah. Sehingga saat gelombang trsbt pecah di pantai akan mengangkut sedimen (material pantai). Material pantai akan tertinggal di daerah pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap ke dalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.

Gelombang perusak daerah pantai (Destructive wave).
gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yg kembali berputar mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Disaat gelombang datang kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.

Pembangkit Gelombang
  1. Angin 
  2. Sea dan swell 
  3. Gerakan Partikel air 
  4. Geometri laut 
  5. Gempa
Tinggi Gelombang & Kecuraman Gelombang
Tinggi gelombang dipengaruhi oleh komponen-komponen gelombang, merupakan perbedaan frekuensi & amplitudo. Dalam teori, jika tinggi dan frekuensi gelombang diketahui, maka sangat memungkinkan untuk memprediksi secara akurat tinggi dan frekuensi gelombang terbesar.
Gelombang pecah adalah suatu sistem yang sangat komplek. Bahkan disaat beberapa jarak sebelum gelombang pecah, bentuknya tdk sinusoidal lagi. Jadi model matematika untuk gelombang seperti ini lebih komplek dari pada yang diasumsikan dalam hal ini. Jika terjadi gelombang pecah, energi yg diterima dari angin, berkurang. Ada beberapa energi dibalikkan kembali kelaut, jumlahnya bergantung pada kemiringan pantai, maka semakin kecil sudut kemiringan pantai, diman semakin kecil energi yg dibalikkan.Kebanyaan energi berkurang sebagai panas dalam percampuran skala kecil dari buih air dan pasir.

Jenis gelombang pecah
Jenis gelombang pecah

Jenis gelombang pecah

Ilmu Kelautan - Meteorologi laut

Sejarah Perkembagan Meteorologi Sejarah Perkembagan Meteorologi

>pd 500 SM Hippocrates: Pengaruh iklim terhadap kesehatan manusia.
>pd 350 SM Aristotle: Kompendium (ikhtisar) pertama, terdiri dari empat buku dengan judul ”METEROLOGICA”.

>pd 100 SM bangsa Yunani, Romawi, Cina dan Korea membuat catatan tentang cuaca: khususnya tentang hujan dan angin.


Sejarah Perkembagan Meteorologi-2

>W. Merle (1337-1344): melakukan observasi cuaca secara sistematis dan kontinu selama 7 thn, meskipun bersifat subyektif atau kualitatif tanpa adanya pengukuran (observasi).
>pada thn 1612 pertama kali diketemukan alat meteorologi pengukur suhu: TERMOMETER oleh GALILEO Galilei. & juga menemukan teleskop sehingga berkembanglah ilmu astronomi bahkan penemuan sunspot (bitik matahari), serta dapat memperkuat pendapat Copernicus tentang heliosentris serta matahari berotasi pada porosnya.

Sejarah Perkembagan Meteorologi-3

>pada thn 1643 diketemukan sebuah alat pengukur cuaca kedua pengukur tekanan udara: BAROMETER oleh Torricelli,berkat bimbingan Galileo Galilei.
>pada thn 1655  J. Mayow menemukan bhw udara merupakan campuran  dari beberapa unsur, penemuan ini menjadi inspirasi bagi peneliti2 berikutnya untuk mengungkap keheterogenan atmosfer (udara).
pada thn 1660 penyusunan hukum tentang permasalahan GAS oleh BOYLE

Sejarah Perkembagan Meteorologi-4

>pada thn 1750 J. Black membuktikan bahwa teori MAYOW, berhasil mengisolasi CO2 dari udara.
?pada thn 1780 Giliran 3 ilmuwan Rutherford, Priestley dan Scheele berhasil membuktikan teori MAYOW, mengisolasi oksigen dan nitrogen dari udara.
>pada thn 1896 Ramsey dapat membuktikan untuk yg ketiga kalinya teori MAYOW dengan berhasil mengidentifikasi  ARGON dalam udara.

Sejarah Perkembagan Meteorologi-5

>pada thn 1710 Gabriel Fahrenheit membuat skala & satuan pengukuran suhu udara dan diabadikan sebagai skala Fahrenheit.
>pada thn 1731 Rene Reamur membuat skala & satuan termometer, diabadikan sebagai skala Reamur.
>pada thn 1742 Anders Celcius membuat skala & satuan termometer untuk yang ketiga dan diabadikan sebagai skala Celsius.
>pada thn 1850 Lord Kelvin menemukan skala dan satuan termometer yang keempat dengan nilai absolut dan mempermudah proses perhitungan karena tanpa nilai minus, diabadikan sbgai satuan internasinal utk suhu didalam KELVIN

Sejarah Perkembagan Meteorologi-6

>pada thn 1749 Wilson untuk pertamakalinya melakukan sebuah observasi udara atas.
>pada thn 1783 Montgolfier menangkap ide Wilson & dapat mempermudah observasi atas, balon udara panas pendorong untuk melayang ke atas.
>pada thn 1784 Charles memperbaharui penemuan Montgolfier dengan isi balon HIDROGEN, suatu gas yang paling ringan, dan lebih lama bertahan pada ketinggian yang lebih tinggi untuk observasi dibandingkan balon udara panas.

Sejarah Perkembagan Meteorologi-7

>Awal abad ke-19 Tiga ilmuwan Loomis (USA), Leverrier (Perancis) dan Brandes (Jerman) mengembangkan konsep peta cuaca sinoptik.   Peta sinoptik membutuhkan data2 scr regional bahkan global & simultan.  Hal ini didukung oleh penemuan telegraph oleh Morse (1840) sehingga memungkinkan pertukaran dan pengiriman data dari berbagai lokasi secara cepat 
>pada thn 1917 V. Bjerknes (Norwegia) membuat formulasi teori polar front
>949 empat ilmuwan: Von Neuman, Charney, Phillips dan Thomson mengembangkan model-model numerik dengan komputer berkecepatan tinggi.
>pada 1 April  1960 diluncurkan satelit cuaca pertama: TIROS I.

Sejarah Perkembagan Meteorologi

METEOROLOGI LAUT


APA ITU ILMU METEOROLOGI
1. Ilmu yang mempelajari fenomena atmosfer dgn perubahan, prediksi dan implikasinya
2. Fokus utama kepada fenomena cuaca & iklim
3. Cuaca adalah dimana perubahan atmosfer pada skala waktuyang pendek
4. Iklim adalah kondisi rata2 cuaca suatu wilayah
5. Tanpa disadari tdk ada aspek apapun kehidupan manusia yang tidak berhubungan dengan iklim dan cuaca

Sejarah pengamatan meteorologi di Indonesia dimulai pada tahun 1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kpl Rumah Sakit Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika.
Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yg dikepalai Oleh Dr. Bergsma
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dibagi menjadi dua yaitu: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan AL. Di Jakarta dibentuk sebuah Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah Kementerian Pekerjaan Umum & Tenaga.
Pada tahun 1972, Direktorat Meteorologi & Geofisika diganti namanya menjadi Pusat Meteorologi & Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen Perhubungan, & pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi & Geofisika, dengan kedudukan tetap berada di bawah Departemen Perhubungan
Pada tahun 2002, dengan keputusan Presiden RI Nomor 46 dan 48 tahun 2002, struktur organisasinya diubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dengan nama tetap Badan Meteorologi dan Geofisika.
Terakhir kali nya, melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, Badan Meteorologi dan Geofisika berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, & Geofisika (BMKG) dengan status tetap sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen.


Tim Ekspedisi Layar Sabang Merauke Tiba di Makassar

Tim Ekspedisi Layar Sabang Merauke Tiba di Makassar
DEMI pembentukan kader bahari, sekelompok mahasiswa dan pelaut melakukan Ekspedisi Layar Sabang Merauke. Hari ini Jumat (17/2/2012) tim telah tiba di Anjungan Pantai Losari Makassar.

Sebanyak lima awak kapal menambatkan perahunya. Mereka adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Ada pula pelaut yang ada dalam rombongan.

"Kami ingin orang Indonesia meningkatkan apresiasi terhadap kebaharian Indonesia. Laut adalah fungsi sebagai pemersatu Indonesia, laut bukanlah pemisah. Ini dapat mengembangkan jiwa bahari nusantara," tutur kapten kapal Effendy Soleman.

Ekspedisi dimulai pada 29 Mei 2011. Mereka berangkat dari Pantai Ancol Jakarta dengan perjalanan dilaksanakan dalam dua etape. Etape pertama, Jakarta, Palembang, Sungai Pakning (Riau), Dumai (Riau), Belawan (Medan), Lhokseumawe (Aceh), Sabang (Aceh), Lhokseumawe (Aceh), Belawan (Medan), Dumai (Riau), Sungai Pakning (Riau), dan Muntok (Bangka Barat).
Jum'at, 17 Februari 2012 - 18:20 wib wib

Etape kedua pada lintasan Pulau Nangka, Toboali (Bangka Selatan), Pulau Pongo (Selat Gaspar), Tanjung Pandan (Belitung), Pangkalan Bun (Kalimantan Barat), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Pulau Laut (Kalsel), Makassar (Sulsel), Kendari (Sulawesi Tenggara), Banggai (Sulawesi Tengah), Liku/Pulau Mangoli (Maluku Utara), Ternate (Maluku Utara), Raja Ampat (Papua Barat), Fak Fak (Papua Barat), dan Timika (Papua).

Kapal yang digunakan ekspedisi sepanjang 8,9 meter dengaan lebar 1,5 meter. Kapal itu tanpa cadik dengan mesin 12 PK.

Para awak kapal berasal dari Masopala Universitas Sriwijaya, Mapala Universitas Indonesia, Kompas Universitas Sumatera Utara, Mapala Leuser, dan Saka Baahari Jakarta dan Banjarmasin. Mereka bergantian personel di pelabuhan tempat singgah.

"Saya berharap dalam lima tahun ke depan bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa bahari terkuat di Asia Tenggara. Semoga pelajaran bahari bisa masuk dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Indonesia," urai Wakil Komandan Lantamal VI Makassar Kolonel Laut Pulung Prambudi yang menerima rombongan.

Tim ekspedisi akan meninggalkan Makassar pada Sabtu, 18 Februari 2012. Perjalanan akan dilanjutkan ke Indonesia bagian timur hingga Merauke.

Model pengelolaan perikanan di Indonesia


model pengelolaan perikanan di indonesia
Perikanan merupakan salah satu aktivitas yang memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan suatu bangsa . perikanan ini merupakan sektor pertanian yang menopang perekonomian Indonesia.
Berdasarkan UU Republik Indonesia No. 45 Tahun 2004tentang Perikanan, perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengelohan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
Kondisi perikanan Indonesia sedang kritis, terlihat dari potensi lestari sebesar 79,37 % akibat tidak seimbangnya  antara penangkapan dan pemanfaatan  dengan ketersediaan. Di samping itu, pemanfaatan yang tidak merata mengancam sumberdaya ikan di masa mendatang
Sumberdaya ikan pada umumnya mempunyai sifat open acces dan common property. Dalam hal ini pemanfaatan sumberdaya perikanan pada umum nya bersifat terbuka oleh siapa  saja dan  kepemilikan bersifat umum. Oleh karena itu dibutuhkan pengelolaan yang bijak agar tidak menimbulkan gejala eksploitasi berlebihan( over  exploitation ) investasi berlebihan ( over investmen ), dan tenaga kerja berlebihan ( over employment ). Disini ada penekanan konsep pemanfaatan sumberdaya perikanan yang menjaga keseimbangan antara produksi (to exploit the resource ) konservasi ( to protect it ), dan distribusi (to share it ).
Berdasarkan ketentuan perundang-undang di Indonesia potensi perikanan dimaksudkan sebagai potensi meningkatkan kesejahteraan dan menyelesaikan kemiskinan dalam pasal UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan dengan jelas disebutkan bahwa tujuan pengelolaan perikanan adalah di samping  meningkatkan taraf  hidup nelayan juga diperuntukkan sebagai upaya meningkatkan penerimaan dan devisa Negara kesepakatan kerja kebutuhan konsumsi protein ikan optimalisasi konsep pengelolaan sumberdaya ikan dan  menjamin  kelestarian  mengenai konsep pengelolaan sendiri sebenarnya  juga dengan tegas  disebutkan pasal 2 UU perikanan  dimana  pengelolaan perikanan di lakukan  berdasarkan asas manfaat, keadilan,kemitraan, pemerataan, keterpaduan keterbukaan efisiensi dan kelestarian yang berkelanjutan, dengan demikian antara pertumbuhan dan perkembangan populasi dengan pengelolaan perikanan memiliki keterkaitan yang erat.


model pengelolaan perikanan di indonesiaDari penjelasan di atas menggambarkan bahwa keberadaan sumberdaya perikanan  tidak hanya untuk meningkatkan penerimaan devisa Negara semata.pemanfaatan sumberdaya perikanan  juga harus membawa kesejahteraan kepada nelayan dengan tanpa mengabaikan kelestariannya. Dalam proses pemanfaatan sumberdaya perikanan harus terjamin 3 aspek  dasar yakni ekonomi sosial, dan ekologi. Dalam pengelolaan perikanan oleh pemerintah 3 aspek tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan dan memiliki kaitan masing-masing dengan kesejahteraan keadilan sosial dan kelestarian ekologisnya. Ketiga aspek inilah  yang merupakan esensi dari pembangunan berkelanjutan yang sudah ditempatkan sebagai azas pengelolaan dalam UU perikanan.

Ilmu kelautan - Ocenografi (Sedimen Laut)

 SEDIMEN
1. Sedimen laut dengan informasi ilmiah dapat dikaitkan dengan kandungan mineral berharga
Gas, minyak, mangan, dan pospat, dll
2. Nilai kandungan mineral di dasar laut tidak terhitung jumlahnya, dan diperlukan kajian mendalam tentang dasar laut untuk mendapatkannya
3. Terlebih lagi marine engineer harus mengerti tentang sedimen di laut untuk membangun pelabuhan, pangkalan, dan berbagai bangunan lepas pantai.

Karakteristik sedimen laut
>Oceanographer menggunakan sejumlah variabel untuk mengklasifikasikan sedimen laut.
  • Ukuran butir
  • Bentuk butiran
  • Densitas
  • Warna
  • Komposisi, dan
  • Ketebalan
>Dengan pengetahuan tentang hal tersebut, oceanographer  dapat menentukan distribusi dan umur dari sedimen dan kemudian digunakan untuk mengetahui sejarah dari ocean basin

Particle size
>Geologis mengklasifikasikan sedimen berdasarkan ukuran dari partikel penyusunnya.
>Biasanya mereka mengunakan skala Wentworth untuk mengklasifikasikan baik sedimen daratan ataupun sedimen yang ada di laut.
>Di laut, sand, silt, dan clay adalah komponen paling umum ditemukan.
>Apabila partikel penyusun sedimen klastika semuanya berbentuk bola, maka tidak akan muncul berbagai kesulitan yang berkaitan dengan masalah pengertian besar butir seperti sekarang ini. Hanya dengan menyatakan diameternya, orang sudah paham maksudnya.

Wentworth scale


Particle term
Fraksi
Diameter (mm)
Boulder (bongkah)
gravel
> 256
Cobble (kerakal)
Gravel
64 – 256
Pebble (kerikil)
Gravel
4 – 64
Granule*

2 – 4
Sand (pasir)
Sand
0.062 – 2
Silt (lanau)
Mud
0.004 – 0.062
Clay (lempung)

< 0.004
* Granule (granul) ada yang memasukkan dalam istilah kerikil




Density and shape
>Densitas dan bentuk dari partikel menyediakan kata kunci untuk melihat asal dan kekuatan yang memindahkan partikel tersebut
>Densitas, rasio antara massa terhadap volume, biasanya dinotasikan dalam gram per centimeter kubik.
>Adanya partikel-partikel  dengan densitas yang berbeda-beda mengindikasikan mereka dipindahkan dengan tingkatan energi yang berbeda dan mereka terbentang di dasar dengan tingkatan yang berbeda.
>Bentuk partikel juga mengandung informasi yang penting. Partikel yang cenderung bundar dan partikel yang cenderung memanjang akan memiliki tingkatan yang berbeda di dasar laut.
>Bentuk partikel juga mengidikasikan seberapa jauh partikel tersebut sudah berjalan dari posisi aslinya.
  • Partikel yang sudah terseret jauh cenderung memiliki bentk yang sudah berubah menjadi lebih bundar dari bentuk awalnya.
  • Bentuk partikel yang seragam (bundar) umumnya sudah ‘berjalan’ jauh yang dapat disebabkan oleh angin, gelombang, arus, dan sebagainya.

Warna
>Hal yang pertama kali terlihat sebelum dilakukannya pengukuran adalah warna sedimen
>Warna sedimen ditentukan oleh mineral pengusunnya.
  • Umumnya warna putih dihasilkan oleh calcium carbonate
  • Hitam biasanya memiliki kandungan organik yang tinggi
  • Kuning biasanya memiliki hydroxide (OH-)
  • Abu-abu mengandung silika
Ketebalan lapisan
>Ketebalan lapisan menyediakan informasi asal dari sedimen dan sejarah dari ocean basin tersebut
>Di dekat muara sungai, sedimentasi yang terjadi bisa dalam hitungan beberapa meter per tahunnya.
>Saat gempa terjadi di bawah laut, tumpukan sedimen baru dapat terbentuk hanya dalam waktu beberapa hari.
>Di tengah lautan/ samudera luas, proses sedimentasi terjadi dalam waktu yang relatif konstan. Sehingga kita bisa memprediksi umur dari sedimen/ dasar laut tersebut.

Oseanografi (Perkembanga Dan sjarahnya)

Oseanografi Ilmu yang mempelajari tentang  lautan.
Ilmu perpaduan dari ilmu dasar :
Ilmu tanah, Ilmu bumi, Ilmu fisika, Ilmu kimia, Ilmu biologi, Ilmu iklim
1.
Empat cabang ilmu oceanografi

Fisika oseanografi : pokok bahasan pada hubungan antara fifika yang terjadi di lautan dan yang terjadi antara lautan --atmosfer dan daratan.
Proses pasang surut.
G
elombang.
Sistim arus.
Antarctic Circumpolar
Antarctic Circumpola adalah fitur penting dalam sirkulasi laut karena mengangkut air yang dalam dan menengah antara Atlantik, Hindia, dan Samudra Pasifik. Karena itu berdampak pada sirkulasi dalam di semua cekungan. Karena begitu penting untuk memahami sirkulasi yang mendalam di seluruh samudra.


Geologi oseanografi : ilmu geologi penting sekali dalam mempelajari asal lautan yang telah berubah lebih dari berjuta juta tahun yang lalu.

Gambar di atas menunjukkan gelombang bergerak dimulai perjalanan keluar dari tempat gempa bumi telah terjadi. Beberapa perjalanan air keluar dan menyeberangi lautan baskom, dan, pada saat yang sama, air banjir bergegas ke darat untuk menurunkan garis pantai yang baru.

Kimia Oseanografi  : ilmu ini membahas reaksi kimia yang terjadi di dalam dan di dasar lautan dan juga menganalisa sifat-sifat kimia dari air laut.
Pola umum sirkulasi arus global (Nearshore current) 

Biologi Oseanografi    : disebut juga biologi laut, : pokok bahasannya pada organisme yang hidup di lautan.


Perkembangan Ilmu Oseanografi  Dan Sejarahnya.
1.
Manusia tertarik pada lautan pada awal masa peradaban manusia, ketika pengertian tentang dunia dibatasi oleh negara-negara.
2. Perkembangan didunia perkapalan dan pelayaran sehingga bentuk  peta semakin menjadi tepat.

3.
Ekpedisi pelayaran mengelilinggi dunia   pada abad ke 14 oleh Ferdinando Magelhaens:   dia membuktikan  bahwa bumi itu bulat.
4.
Peta lautan paisifik  dibuat pada abad ke 18  oleh James Cook. . Memperlihatkan daratan  dibagian selatan kutup yang selalu ditutupi es.

Ekspedisi
·         Challenger (1872-1875) pelayaran sejauh 68.890 mil laut, mengukur kedalaman laut, contoh material dasar laut, arus laut iklim suhu laut dlll.
·         Gazella  (1874-1876).
·         Vitiaz(1886-1889.

Pada tahun 1904 koningsbenser mendirikan  Laboratorium perikanan di jakarta, pada tahun  1919 berubah menjadi lab. Biologi laut, Lembaga penelitian laut, pada tahun 1970 membagun  Lembaga Oseanografi Nasional.